Persimpangan Jalan Arbeloa

Persimpangan Jalan Arbeloa

Persimpangan Jalan Arbeloa

Agen Bola Online ,Di persimpangan kita mengerti kalau ujung jalan tidak cuma satu. Tidak seperti lari marathon yang waktu kita mengawali kita sudah mengetahui ke mana kita bakal finis serta mengakhiri.

Tidak mesti seperti George, lelaki tua yang sudah mencapai 80 th. namun masih tetap tabah, tulus serta sepenuh hati menyukai istrinya, Anne, wanita renta lumpuh di film Amour garapan sutradara Mikhael Heneke. Juga tidak mesti seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, Paolo Maldini, Franco Baresi atau Carles Puyol yang sepanjang hidupnya cuma menggunakan waktunya di satu club sepak bola yang dicintainya.

Ada masanya kita tak mesti merampungkan suatu hal hingga garis finis lantaran ketakmampuan. Tak mesti mempunyai apa yang kita cintai lantaran terbatasnya. Juga tidak mesti bertahan di satu club yang kita cintai sesaat club itu telah terasa tidak memerlukan kita. Saat ini tinggal menanti saat sejauh mana kita bakal dapat berjuang, sejauh mana kita bakal dapat bertahan serta sejauh mana kita bakal ikhlas untuk suatu hal yang kita cintai. Tetapi, cinta mengajarkan kita kalau semua sesuatunya mesti mengetahui batas serta batas tersebut yang kita ukur sampai hari ini.

Situasi mendadak haru saat Real Madrid memainkan kompetisi kandangnya melawan Valencia di Santiago Bernabeu, pada hari Minggu, 8 Mei 2016. Pertandingan itu adalah pertandingan paling akhir Madrid di kandang musim ini. Madrid sendiri masihlah berjuang dalam perebutan gelar La Liga sebelumnya setelah pernah ketinggalan 12 poin dari pemimpin klassemen Barcelona.

Tetapi, hingga minggu ke-37 La Liga, Madrid sukses memotongnya sampai cuma berjarak 1 poin. Pertandingan itu juga adalah pertandingan paling akhir Alvaro Arbeloa di Bernabeu sesudah satu hari sebelumnya kompetisi menginformasikan untuk tidak meneruskan karir sepakbolanya di Madrid.

Arbeloa yaitu pemain belakang dengan kekuatan olah bolanya tanpa ada skill yang mengagumkan serta hampir ” umum saja “. Tetapi, Kompetisi itu begitu khusus mengingat apa yang pernah dikerjakan Arbeloa bukan sekedar didalam lapangan, namun juga diluar lapangan.

Sebentar sebelumnya kompetisi diawali, banyak Madridista yakini kalau Arbeloa bakal bermain hari itu. Banyak juga yang yakin Zinedine Zidane bakal memberikannya peluang bermain untuk paling akhir kalinya di Bernabeu sebagai starter. Argumennya : dedikasinya untuk club sampai kini. Tetapi, sebenarnya malah terbalik. Tidak ada nama Arbeloa di starting XI Los Blancos hari itu.

Di posisi yang umum ia menempati, ada Danilo. Di posisi bek kiri, juga telah di isi oleh Marcelo. Juga di posisi bek tengah, telah di isi Raphael Varane serta Sergio Ramos. Situasi terlihat umum saja hingga menit ke-79, waktu Madrid telah ganti dua pemainnya. Tinggal satu peluang lagi untuk ganti pemain, serta apakah peluang itu tidak ada juga untuk Arbeloa?

Baca Juga : Juventus Tak Akan Datangkan Isco

Tetapi, garis nasib berkata lain. Arbeloa pada akhirnya masuk menukar Cristiano Ronaldo di kompetisi itu. Situasi pecah. Banner raksasa yang berupa jersey bertuliskan nomer punggung 17 serta nama Arbeloa dikibarkan. Ramos, sebagai kapten, juga tidak tinggal diam. Ia mengapresiasi Arbeloa dengan melepas ban kaptennya, lantas menyerahkannya pada Arbeloa.

Seisi stadion bergemuruh mengingat ini hari terakhirnya bermain di Bernabeu. Sebentar sesudah kompetisi selesai, semua pemain yang ada di lapangan juga di bangku cadangan lari mengangkat-angkat Arbeloa seperti Legenda yang sudah memberi semuanya buat club.

Kompetisi terakhirnya di Madrid hampir prima. Lebih prima dari perpisahan dengan Iker Casillas yang berbuntut air mata di meja konferensi pers yang penuh kepedihan. Lebih meriah dari perpisahan Roberto Carlos saat Madrid memenangi gelar juara ke-30 di th. 2007. Lebih disorot dari perpisahan Raul, Zidane, sampai Ruud van Nistelrooy yang pamit hampir seperti orang umum tanpa ada peran yang bergelimpah.

Legenda bakal pergi serta kenangannya tidak bakal berhenti. Arbeloa pada akhirnya menjumpai persimpangan jalan dalam kehidupannya kalau pada akhirnya dia mesti meninggalkan Madrid.

724a58ca-15dc-43d4-a1b5-60f842b7e98f_43
Mulai sejak kematian Juanito Maravilla 24 th. waktu lalu, Madrid hampir minim sosok yang menjaga club ini dengan setulus hati, hingga mati sampai mengajarkan nilai-nilai Madridismo sepenuh jiwa. Sampai Arbeloa jadi jawaban atas apa yang diperlukan Madrid sampai kini. Membela pemain, gunakan tubuh untuk pelatih, menghormati fans, sampai jadi jembatan perekat club dengan ultras sur, fans garis keras Madrid yang sampai kini mempunyai jalinan jelek dengan manajemen club. Dua puluh menit sesudah pertandingan melawan Valencia selesai, banner raksasa berupa jersey Arbeloa masihlah dibentangkan di tribun.

Ada di Madrid mulai sejak th. 2001, waktu dia masihlah berusia 18 th., bikin Arbeloa begitu mengerti keadaan, ambisi, serta ekspektasi Madrid. Waktu itu yaitu saat dimana Florentino Perez tengah gencar-gencarnya bangun scuad Galacticos. Sesudah menghadirkan Luis Figo (2000), Zidane (2001), Ronaldo Nazario (2002), David Beckham (2003), Michael Owen (2004), sampai Robinho (2005), keadaan tim Madrid beralih mencolok.

Ada Arti Zidanes untuk menyebutkan pemain-pemain bintang itu. Ada juga arti Pavones untuk menyebutkan pemain-pemain non-bintang didikan akademi Madrid seperti Francisco Pavon, Guti, Alvaro Meija, sampai Ivan Helguera. Pergaulan pemain, baik didalam serta luar lapangan, dimaksud terbelah dengan arti itu.

Mulai sejak itu juga Madrid jadi beberapa kumpulan pemain yang ikonik serta ” sukses ” membelah fans dengan arti Ikerista (fans Casillas), Raulista (fans Raul), Zidanes (fans Zidane) dsb. Tersebut juga sebagai argumen paling utama di masa Galacticos jilid I prestasi Madrid jauh dari standard yang dikehendaki.

Th. 2006 yaitu saat dimana Arbeloa mesti meninggalkan Madrid. Tiga th. lamanya Arbeloa meninggalkan Madrid ; setahun di Deportivo La Coruna (2006-2007) serta 2 th. di Liverpool (2007-2009) sampai pada akhirnya kembali ke musim panas 2009, waktu Florentino Perez kembali bangun Los Galaticos jilid II dengan menghadirkan pemain bintang juga.

Baca Juga : Tarik Undangannya untuk Liverpudlian, Klopp: Yang Tak Punya Tiket Jangan ke Basel

Arbeloa yang malang-melintang diluar Madrid sepanjang 3 th. memperoleh pelajaran yang begitu bernilai mengenai bagaimana phobia yang bakal dihadapi Madrid yang akan datang. Mulai sejak waktu itu juga Arbeloa senantiasa tunjukkan jati dirinya, tak cuma untuk seseorang pemain Madrid, namun sebagai Madridista yang senantiasa siap untuk keutuhan tim.

Narasi diawali di musim 2009-2010 waktu Madrid yang dilatih Manuel Pellegrini memperoleh kritik mengagumkan dari media. Di musim itu, Madrid tidak berhasil di 16 besar Liga Champions serta tidak berhasil memenangkan Liga. Arbeloa lalu lakukan konfrensi pers sendiri dengan memanggil beberapa wartawan serta menyebutkan keadaan tim begitu baik serta pemain suka dilatih Pellegrini.

Walau pada akhirnya Pellegrini dipecat serta digantikan Jose Mourinho, tetapi apa yang dikerjakan Arbeloa saat itu begitu dikenang sampai hari ini.

Pada bln. Mei 2012, waktu Madrid memenangkan liga untuk ke-32 kalinya. Gosip kepindahan Gonzalo Higuain menguat. Waktu itu Higuain telah memohon tiap-tiap pemain, staf pelatih, sampai sebagian perwakilan Madridista, untuk di tandatangani jersey-nya. Tetapi, ada surprise di perayaan gelar Madrid di Cibeles ketika itu. Arbeloa mengambil mikrofon serta bernyanyi : ” Pipita quedate, Pipita quedate, Pipita quedate.. ” (Pipita –julukan Higuain– Bertahanlah). Sampai pada akhirnya Higuain bertahan di musim itu serta baru meninggalkan Madrid diakhir musim 2012-2013.

Di bln. September 2012, saat Cristiano Ronaldo cetak gol, saat Madrid menang 3-0 atas Granada di La Liga, banyak spekulasi yang nampak waktu itu, mengatakan bila Ronaldo tak nyaman di Madrid, Ronaldo menginginkan geser, sampai gosip Ronaldo tak dihargai Madrid. Arbeloa yaitu orang pertama yang menjumpai Ronaldo serta memohonnya terbuka untuk segalanya mengenai Madrid.

Selang beberapa saat, Arbeloa menulis serta mengunggah fotonya berbarengan Ronaldo di account Twitter-nya : ” I am here gan, with you, don’t sad “. Sampai pada akhirnya pada September 2013, Cristiano Ronaldo perpanjang kontraknya sampai 2018.

Narasi berlanjut di perempatfinal Copa Del Rey pada Januari 2013, waktu Messi diberitakan mengejek Istri Arbeloa, Carlota Luiz, yang saat itu tengah hamil dengan ejekan ” Bobo ” di parkiran Santiago Bernabeu. Arbeloa cuma tersenyum serta berkata, ” Dia tidak ingin berkelahi dengan anak-anak. ”

Arbeloa senantiasa membela rekan setimnya sampai dia dimaksud Spartan. Arbeloa ada waktu Madridista menyiuli nama Antonio Adan. Arbeloa tak lari waktu Diego Lopez memperoleh kecaman dari Ikerista. Arbeloa juga yang coba menentramkan perang dingin Casillas serta Mourinho diakhir musim 2012-2013. Arbeloa menggunakan kaos ” Live Forever ” sebagai janjinya pada Madridista bernama Van Palomain yg tidak pernah lihat Madrid mencapai La Decima lantaran lebih dahulu tutup umur akibat kecelakaan kereta api. Arbeloa juga orang yang berdiri paling depan waktu Gerard Pique menghina Madrid serta siap ” perang ” di sosial media dengan Pique.

Baca Juga : Henderson Berharap Sudah Fit untuk Final Liga Europa

Ada banyak lagi perlakuan khusus yang dikerjakan Arbeloa untuk Madrid. Itu juga satu diantara argumen kenapa sampai hari ini dia masihlah bertahan di Madrid waktu usianya telah mencapai 33 th.. Waktu saat bermain yang sanagt minim lantaran skill-nya dikira umum saja.

Tetapi, semua sesuatunya memanglah mesti mengetahui batas. Batas itu pulalah yang kita saksikan saat Arbeloa mesti meninggalkan Madrid. Mesti disadari ini bakal jadi peristiwa yang berat untuk pemain, Madridista, serta club. Tetapi, apapun itu, jiwa Madridismo serta Spartan Arbeloa bakal senantiasa hidup untuk Madrid.